Selasa, 27 Desember 2011

PENINGKATAN KETERAMPILAN BERBICARA BAHASA SUNDA MELALUI PEMENTASAN DRAMA DENGAN PEMBELAJARAN KOOPERATIF MODEL PERMAINAN NYUSUN KALIMAH DI KELAS IX J SMP NEGERI 1 KOTABARU TAHUN AJARAN 2010-2011


PENINGKATAN KETERAMPILAN BERBICARA BAHASA SUNDA MELALUI PEMENTASAN DRAMA DENGAN PEMBELAJARAN KOOPERATIF MODEL PERMAINAN NYUSUN KALIMAH
DI KELAS IX J SMP NEGERI 1 KOTABARU 
TAHUN AJARAN 2010-2011







OLEH:
ENOK JUSRIAH, S.Pd.



BAB I
PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang Masalah
Bahasa Sunda berkedudukan sebagai bahasa daerah, yang  juga merupakan bahasa ibu bagi sebagian besar masyarakat  Jawa Barat. Bahasa Sunda juga menjadi bahasa pengantar pembelajaran di kelas awal Sekolah Dasar. Mata pelajaran bahasa dan sastra Sunda berdasarkan peraturan Daerah Propinsi Jawa Barat no 5 Tahun 2003 tentang pemeliharaan bahasa, sastra dan aksara daerah, yang menetapkan Bahasa Daerah, diajarkan  di pendidikan dasar di Jawa Barat. Sejalan dengan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan BAB III Pasal 7 Ayat 3-8, yang menyatakan dari SD sampai SLA diberikan pengajaran muatan lokal yang relevan dan Rekomendasi UNESCO Tahun 1999 tentang pemeliharaan bahasa-bahasa ibu di dunia.
Pembelajaran bahasa Sunda mempunyai empat keterampilan berbahasa yang disebut catur tunggal. Keempat keterampilan tersebut yaitu: menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Dari keempat keterampilan tersebut keterampilan berbicara merupakan keterampilan yang sangat sulit bagi siswa, padahal keterampilan berbicara sangat penting bagi siswa untuk berkomunikasi, menyatakan pikiran, gagasan, ide, dan perasaan.
Menurut hasil wawancara dengan 100 siswa pada tanggal 4 Desember 2010   untuk mengetahui kesulitan mengenai pembelajaran Bahasa Sunda  peneliti mengajukan beberapa pertanyaan seputar pembelajaran Bahasa Sunda, mulai dari pembelajaran menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Karena dengan mengetahui kesulitan siswa, peneliti akan lebih mudah menentukan model pembalajaran yang akan dipergunakan dalam penelitian. Wawancara dilaksanakan dengan cara siswa memilih materi mana yang paling sulit diantara empat keterampilan berbahasa dan jelaskan apa alasannya. Dari hasil wawancara tersebut dapat disimpulkan  sebagai berikut:
-       Menyimak : 9%  siswa menjawab merasa kesulitan dalam hal menyimak, sementara yang lain memberi alasan bahwa mereka masih bisa mengerti dari apa yang mereka telah dengar.
-       Berbicara    : 66% siswa menjawab bahwa mereka  sangat sulit untuk berbicara bahasa Sunda dengan alasan mereka bukan orang Sunda, takut bahasanya kasar,  harus diterjemahkan dulu sebelum berbicara, dan tidak percaya diri.
-       Membaca    : hanya 6% siswa menjawab membaca, alasannya mereka masih bisa mengerti apa maksud dari bacaan yang mereka baca.
-       Menulis       : 19%  siswa menjawab menulis, menulis merupakan urutan kedua tingkat kesulitan mereka. Pada pembelajaran ini mereka masih bisa mengatasinya dengan membuka kamus atau bertanya kepada orang lain.
            Berdasarkan hasil wawancara di atas dari keempat keterampilan berbahasa tersebut maka keterampilan berbicaralah yang paling sulit bagi siswa.
Adapun Standar Kompetensi keterampilan berbicara untuk kelas 1X sesuai dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) adalah “Mampu berbicara untuk mengungkapkan pikiran, perasaan dan keinginan dalam bentuk mengemukakan kritik, berpidato, menceritakan isi novel, bermain peran, dan dramatisasi/ musikalisasi puisi”.
            Kenyataan di lapangan tujuan “mampu berbicara” tersebut sulit untuk direalisasikan, sebagian besar siswa tidak mengerti dan tidak menyenangi pembelajaran bahasa Sunda. Ini adalah sebuah tantangan bagi peneliti, besar kemungkinan siswa merasa bosan dan tidak tertarik dengan model pembelajaran yang tidak inovatif dan kurang variatif, proses pembelajaran didominasi oleh guru, kurang memanfaatkan atau menggunakan media pembelajaran yang akhirnya pembelajaran tidak menarik, dan siswa menjadi pasif.  Terbukti dari hasil ujian praktik berbicara bahasa Sunda tahun 2009-2010 adalah 65,50 masih dibawah KKM yaitu 70,00.
Berpedoman dari hasil wawancara dan hasil ujian praktik tersebut, peneliti mencoba suatu cara agar siswa tertarik dan menyenangi pembelajaran berbicara terutama dalam hal bermain peran berdasarkan naskah drama.
Dalam pembelajaran bermain peran berdasarkan naskah drama banyak sekali manfaatnya, antara lain yaitu dapat menumbuhkan kreatifitas, lebih mengerti dan paham pribadi orang lain, percaya diri, melatih konsentrasi,  berani tampil di depan orang banyak, dan dapat bekerja sama. Sedangkan keterampilan yang bisa dikembangkan diantaranya dapat memahami, menghayati, menghafal, berkomunikasi, dan bersosialisasi.
            Berdasarkan permasalahan di atas peneliti akan mengambil judul penelitian “Peningkatan Keterampilan Berbicara Bahasa Sunda  melalui Pementasan Drama dengan Pembelajaran Kooperatif Model Permainan Nyusun Kalimah”.


B.  Perumusan Masalah
Dalam penelitian ini, peneliti merumuskan masalah “Apakah Pembelajaran Kooperatif Model Permainan Nyusun Kalimah dapat Meningkatkan Keterampilan Berbicara Bahasa Sunda melalui Pementasan Drama?”
C.     Hipotesis
Dengan  pembelajaran kooperatif model permainan nyusun kalimah dapat meningkatkan keterampilan berbicara Bahasa Sunda melalui pementasan drama.
D.    Tujuan Penelitian
Sesuai dengan rumusan masalah peneliti bertujuan ingin mendeskripsikan peningkatan kemampuan siswa kelas 1X SMPN 1 Kotabaru Kabupaten Karawang dengan pembelajaran kooperatif model permainan nyusun kalimah dapat meningkatkan keterampilan berbicara Bahasa Sunda melalui  pementasan drama.
E.      Manfaat Penelitian
Manfaat yang diharapkan peneliti adalah:
a.       Bagi peneliti.
-       Dapat meningkatkan kreatifitas guru, karena dapat menerapkan model yang paling tepat sesuai dengan materi yang akan diajarkannya agar lebih menarik dan tidak membosankan.
-       Lebih bersemangat dalam memberikan materi pembelajaran yang menarik kepada siswa.
b.      Bagi siswa.
-       Dapat meningkatkan minat, kreatif serta dapat mengembangkan   bakat yang ada dalam dirinya.
-       Lebih percaya diri dan menumbuhkan keberanian untuk tampil.
-       Lebih bersemangat dan  dapat bekerja sama dalam belajar.
c.       Bagi guru lain, dapat menjadi contoh dan dapat digunakan sebagai bahan diskusi lebih lanjut untuk meningkatkan pembelajaran yang lebih baik.















BAB II
KAJIAN TEORITIK
Pendidikan merupakan kebutuhan pokok setiap manusia di  dunia. Karena dengan pendidikan manusia akan mendapatkan tuntunan untuk tujuan hidup yang lebih mulia.
Guru memiliki peranan penting dalam mengajarkan ilmu pengetahuan kepada siswa. Dalam mengajarkan ilmu pengetahuan hendaknya guru memiliki prinsip untuk membelajarkan siswa bukan hanya sekedar mengajar siswa. Sebelum mengajar guru harus memikirkan pendekatan, strategi, metode serta media yang cocok untuk kegiatan belajar mengajar.
Stephen dan Crawley (1994) dalam makalah Ruswendi (2010) menjelaskan sepuluh ciri guru yang baik yaitu:
1.       Anda selalu mencintai mata pelajaran anda, dan selalu berusaha menunjukkannya kepada siswa.
2.      Anda selalu berusaha agar penyajian materi menarik dan ada keterkaitan terhadap pelajaran, dan berusaha agar siswa merasakan ketertarikan dari materi tersebut.  
3.      Anda selalu membuat isu-isu atau tema-tema yang menarik minat siswa berkaitan dengan materi pelajaran.
4.      Anda selalu berusaha mengajukan pertanyaan yang meminta jawaban yang imajinatif, memerlukan evaluasi, dan analisis.
5.      Anda selalu mendengarkan siswa, dan menghindarkan dari “too much talking and chalk”.
6.      Memiliki rasa humor yang tinggi (tetapi bukan pelawak) sehingga kelas selalu
segar.
7.      Anda selalu memberikan perhatian kepada siswa, bukan hanya sebagai guru
tetapi juga sebagai manusia.
8.      Anda selalu mendorong siswa untuk melatih berpikir (seperti berpikir
rasional, kritis, dan kreatif).
9.      Anda selalu berusaha “ada” bila diperlukan siswa di dalam kelas.
10.  Anda selalu melakukan penilaian yang adil kepada siswa.
Salah satu upaya untuk meningkatkan kegiatan belajar dan mengajar yaitu dengan menggunakan model-model pembelajaran. Model-model pembelajaran yang tergolong inovatif dalam Bahasa Sunda adalah model  kontruktifisme.
Macam- macam bentuk model kontruktifisme:
1.  Model pembelajaran contekstual ( CTL )
2.  Model pembelajaran inquiri (IBL )
3.  Model pembelajaran berbasis masalah ( PBL )
4.  Model pembelajaran cooperative ( CL )
Dalam penelitin ini peneliti akan lebih memfokuskan pada materi pembelajaran berbicara dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif (cooperative learning), yaitu dengan menggunakan model yang diberi judul Permainan Nyusun Kalimah. Untuk itu peneliti akan menjelaskan beberapa pengertian yang berhubungan dengan materi penelitian:
A.  Pembelajaran Kooperatif
Salah satu usaha guru agar siswa lebih mudah dalam menerima pembelajaran yaitu dengan membentuk kerja kelompok. Dengan kerja kelompok diharapkan agar siswa dapat berdiskusi dan bekerja sama dalam memecahkan masalah.
Menurut Berdiati (2010) belajar kooperatif merupakan salah satu upaya untuk mewujudkan pembelajaran aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan. Belajar kooperatif memberikan kesempatan pada siswa untuk saling berinteraksi, dimana siswa belajar dalam kelompok kecil yang memiliki tingkat kemampuan berbeda. Belajar belum dikatakan tuntas bila salah satu siswa dalam kelompok belum menguasai pembelajaran.
Pembelajaran kooperatif memberikan kesempatan pada siswa untuk mengembangkan beberapa kecakapan hidup, diantaranya kecakapan berkomunikasi dan kecakapan bekerja sama.
B.  Berbicara
a.      Pengertian Berbicara
Keterampilan berbicara merupakan salah satu keterampilan berbahasa yang sangat menunjang pada keterampilan lainnya, yaitu menyimak, membaca, dan menulis.
Dalam kehidupan  sehari-hari sebagai mahluk sosial manusia dituntut untuk terampil berbicara. Di dalam lingkungan keluarga, selalu terjadi dialog dengan seluruh anggota keluarga lainnya. Dengan lingkungan masyarakat juga terjadi pembicaraan, dengan tetangga, dengan teman, dengan pedagang di pasar, bahkan di forum-forum resmi, misalnya berdiskusi, berkampanye, dan sebagainya.
Berbicara adalah kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atau kata-kata untuk mengekspresikan, menyatakan serta menyampaikan pikiran, gagasan, dan perasaan (Tarigan:1981).
Dengan demikian setiap manusia dituntut untuk terampil berbicara.
b. Tujuan dan Cakupan Mata Pelajaran Berbicara
Tujuan utama dari berbicara adalah untuk berkomunikasi. Keberhasilan seseorang berkomunikasi di dalam kehidupan bermasyarakat menunjukkan kematangan atau kedewasaan seseorang.
Banyak orang yang berhasil karena pandai berbicara. Seorang pedagang sukses karena lihai berbicara untuk meyakinkan pembelinya. Demikian pula seorang pemimpin yang pandai berbicara akan berhasil dalam menguasai dan mempengaruhi orang-orang yang dipimpinnya.
Berdasarkan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Mata Pelajaran Bahasa dan Sastra Sunda Tingkat SMP untuk pembelajaran keterampilan berbicara meliputi:

Tabel 1: SK dan KD Pembelajaran Berbicara Bahasa Sunda Tingkat SMP
Kelas
Standar Kompetensi
Kompetensi Dasar
VII
7.2 Mampu berbicara untuk  mengungkapkan pikiran, perasaan, dan keinginan dalam menyampaikan pengumuman, menceritakan pengalaman, menyampaikan bahasan, menceritakan tokoh, berbicara melalui tele[pon, dan bercakap-cakap dengan teman.
7.2.1 Menyampaikan pengumuman (wawaran)
7.2.2 Menceritakan pengalaman
7.2.3 Menyampaikan bahasan
7.2.4 Menceritakan tokoh idola
7.2.5 Bercerita melalui telepon
7.2.6 Bercakap-cakap (guneman) dengan teman sekelas
VIII
8.2 Mampu berbicara untuk mengungkapkan pikiran, perasaan, dan keinginan dalam berwawancara, berdiskusi, menyampaikan informasi dan laporan perjalanan, memandu acara, dan memimpin diskusi.
8.2.1 Berwawancara dengan nara sumber
8.2.2 Berdebat dalam diskusi
8.2.3 Menyampaikan informasi
8.2.4 Menyampaikan laporan perjalanan
8.2.5 Memandu acara kegiatan
8.2.6 Memimpin diskusi
IX
9.2 Mampu berbicara untuk  mengungkapkan pikiran, perasaan, dan keinginan dalam bentuk mengemukakan kritik, berpidato, menceritakan isi novel, berdiskusi, bermain peran, dan dramatisasi/musikalilasi puisi.
9.2 1 Mengkritik berbagai karya seni
9.2.2 Berpidato (biantara)
9.2.3 Menceritakan isi novel
9.2.4 Berdiskusi di kelas
9.2.5 Bermain peran berdasarkan naskah drama
9.2.6     Dramatisasi/musikalisasi puisi

c.     Hubungan Berbicara dengan Menyimak.
Berbicara dan menyimak merupakan kegiatan komunikasi dua arah yang langsung, merupakan komunikasi tatap muka atau face to face comunication (Tarigan:1981)
Berbicara dan menyimak merupakan kegiatan berbahasa lisan. Dalam berbicara seseorang menyampaikan informasi, sedangkan dalam menyimak seseorang menerima informasi.
Kegiatan berbicara dan menyimak saling melengkapi. Berbicara tak ada artinya bila tidak ada yang menyimak, dan yang menyimak tidak akan mungkin terjadi bila tidak ada yang berbicara.
Apabila digambarkan hubungan berbicara dengan menyimak dalam kelangsungan proses komunikasi akan seperti ini:
Pembicara ---------------------- Pembicaraan -------------------------- Pendengar
                                                                 

        Umpan balik (feed back)

d.      Hubungan Berbicara dengan Membaca
Ada beberapa perbedaan antara berbicara dengan membaca, yaitu dalam sifat, sarana, dan fungsi. Berbicara merupakan kegiatan berbahasa lisan yang produktif dan sebagai penyebar informasi. Sedangkan membaca merupakan kegiatan berbahasa melalui sarana tulis yang bersifat reseptif sebagai penerima informasi.
Semakin sering seseorang membaca, maka semakin banyak informasi yang didapat. Hal ini akan berpengaruh untuk menambah bahan informasi seseorang dalam berbicara.
e.     Hubungan Berbicara dengan Menulis
Berbicara dan menulis kedua-duanya merupakan kegiatan yang produktif, keduanya sama-sama memberi informasi. Perbedaannya, berbicara kegiatannya melalui bahasa lisan, sedangkan menulis melalui bahasa tulisan.
Karena betapa pentingnya pembelajaran berbicara, maka penting sekali untuk diajarkan kepada siswa.
C. Drama
a.      Pengertian Drama
Drama merupakan  bagian dari pembelajaran berbicara Bahasa Sunda. Ada beberapa arti drama menurut para ahli, menurut Kosasih dkk (2005) drama adalah karangan yang berupa dialog sebagai bentuk alurnya.
Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia drama adalah komposisi syair atau prosa yang diharapkan dapat menggambarkan kehidupan dan watak melalui tingkah laku (akting) atau dialog yang dipentaskan (2005), Ananto On Mon (2007) Drama berarti (1) perbuatan, tindakan (2) drama adalah hidup yang dilukiskan (3) konflik dari sifat manusia merupakan sumber pokok drama.
Berdasarkan pendapat tersebut, dapat disimpulkan bahwa drama adalah karya sastra yang menggambarkan tingkah laku kehidupan manusia diungkapkan melalui dialog-dialog.
b.      Unsur-unsur Drama
Cerita drama mempunyai unsur-unsur yang sama dengan jenis karya sastra yang lainnya. Unsur-unsur drama di dalam materi Diklat Sertifikasi Guru Muatan Lokal Bahasa dan Sastra Sunda adalah: tema, amanat, plot/alur, dan watak/karakter. Sutopo (Bahasa dan Sastra Indonesia:2008) unsur drama meliputi:  latar/setting, alur/plot, pemeran, dialog, akting/gaya, dan tema.
Berdasarkan pendapat para ahli tersebut dapat disimpulkan bahwa unsur-unsur dalam drama adalah: tema, amanat, plot/alur, latar/setting, watak, dan pemeran.
1.      Tema
Dalam materi diklat sertifikasi guru muatan lokal Bahasa dan Sastra Sunda, tema yaitu pikiran pokok yang menjadi gambaran terhadap falsafah isi naskah tersebut. Tema adalah pokok cerita.
2.      Amanat
Amanat, yaitu tujuan yang ingin dicapai oleh pengarang naskah tersebut.
3.      Plot/alur.
Plot/alur,  yaitu  susunan  lakon, sering disebut juga skenario. Bagian-bagian plot menurut  Kosasih dkk. (a) Pemaparan atau eksposisi, babak yang mengantarkan situasi awal. (b)  Penggawatan atau komplikasi, babak mulai munculnya konflik. (c) Klimaks, babak sebagai puncak krisis. (d) Peleraian atau anti klimaks, babak adanya peleraian. (e) Penyelesaian, babak akhir.
4.      Latar/setting.
Latar/setting adalah tempat dan waktu terjadinya peristiwa.
5.      Watak.
Watak/ karakter  adalah  watak yang terdapat pada tokoh cerita, inilah yang akan membentuk plot, yang diwujudkan melalui peran-perannya. Watak protagonis, yaitu watak yang diperankan oleh tokoh utama, tokoh yang mempunyai lakon. Watak antagonis, yaitu watak tokoh yang diperankan oleh tokoh yang menjadi lawan tokoh utama. Watak tritagonis, yaitu peran pihak ketiga, biasanya pihak yang akan membantu menyelesaikan konflik. Watak pelengkap, yaitu peran tokoh lain yang menjadi pelengkap dalam menyelesaikan konflik dalam cerita.
6.      Pemeran
Pemeran utama dan pemeran pembantu.
c.       Bagian-bagian Drama.
Selain unsur-unsur intrinsik, dalam drama juga terdiri dari beberapa bagian, diantaranya adalah: babak, adegan, prolog, dialog, monolog, dan epilog.
1.     Babak. Babak merupakan bagian naskah drama yang merangkum kejadian yang berlangsung dalam suatu tempat dalam kronologi yang telah ditentukan.
2.   Adegan. Adegan yaitu bagian-bagian dalam setiap babak. Satu adegan    hanya menggambarkan satu suasana berupa urutan keadaan yang ada          pada satu babak.
3. Prolog. Prolog adalah pembukaan dalam sebuah lakon drama sebagai         pengantar secara umum mengenai lakon drama yang akan disajikan.
4.  Dialog. Dialog adalah percakapan antar pemain.
5. Monolog. Monolog adalah percakapan seorang pelaku dengan dirinya       sendiri.
6.  Epilog. Epilog merupakan kesimpulan cerita dibarengi dengan nasehat,     pesan atau ucapan terima kasih. Merupakan kata penutup pada sebuah lakon drama.
D. Permainan Nyusun Kalimah
            Model permainan nyusun kalimah adalah cara penguasaan pembelajaran melalui penyusunan kalimat sehingga siswa bebas untuk berbicara, mengungkapkan pendapat, berekspresi dan berimajinasi. Pengembangannya siswa dapat mengekspresikan diri dengan penampilan sesuai skenario yang mereka susun. Permainan ini dapat dilakukan secara berkelompok.
E. Langkah-langkah Pembelajaran
1.   Guru membagi suatu kelas menjadi beberapa kelompok, setiap kelompok    terdiri dari 8-9 siswa dengan tingkat pemahaman materi yang berbeda-beda.
2.   Guru membagi tugas yang berbeda pada setiap kelompok dengan cara setiap kelompok diminta membayangkan beberapa acara TV yang paling aktual, kejadian di sekeliling atau acara yang biasa diselenggarakan di lingkungan tempat tinggal.
3. Guru meminta siswa mendiskusikan pembuatan naskah singkat sesuai dengan tema yang mereka pilih. Seluruh anggota dalam kelompok harus mendapatkan pembagian peran. Setiap siswa diharuskan meyumbangkan satu buah kalimat secara bergantian. Setelah selesai satu putaran seluruh siswa dalam kelompok sudah mendapat giliran, maka penyusunan ceritapun dilanjutkan satu putaran lagi. Sehingga terbentuk menjadi satu naskah cerita drama singkat.
4.  Guru meminta siswa untuk mempelajari naskah yang sudah dibuat dan berekspresi sesuai skenario cerita. Guru harus menentukan waktu tampil untuk tiap kelompok selama 10 menit.
5.   Guru meminta masing-masing kelompok tampil memerankan sesuai dengan skenario yang sudah dibuat. Kelas disetting sesuai dengan kebutuhan masing-masing  kelompok yang akan tampil.











BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

A.      Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian direncanakan pada bulan Januari dan Pebruari 2011 di SMPN 1 Kotabaru, Jalan Ir. H. Juanda Kotabaru,  Karawang, Jawa Barat.
B.       Populasi dan Sampel
Sebagai populasi adalah seluruh siswa kelas 1X sebanyak 14 kelas dan sampel adalah siswa kelas IX J SMPN 1 Kotabaru,  kabupaten Karawang. Yang terdiri atas laki-laki 21 siswa, perempuan 24 siswa, jumlah keseluruhan 45 siswa.
C.      Perencanaan Tindakan
Untuk meningkatkan keterampilan berbicara bahasa Sunda  melalui pementasan drama peneliti perlu mengadakan rancangan tindakan yang mencakup hal-hal sebagai berikut:
1.    Mempersiapkan rencana program pembelajaran yang meliputi: standar kompetensi, kompetensi dasar, indikator, tujuan pembelajaran, materi ajar, metode pembelajaran, strategi pembelajaran, sumber pembelajaran, dan penilaian.
2.    Penyusunan rancangan pembelajaran.
3.    Pembuatan instrumen penelitian dan pencapaian hasil belajar.
D.      Siklus Penelitian
Penelitian direncanakan dalam 2 siklus. Dalam 1  siklus terdiri  dari 2 kali pertemuan. Setiap pertemuan terdiri dari 2 x 45 menit. Siklus ke 2 merupakan  kelanjutan dari siklus 1.
Gambar 1:  Skema Rancangan dalam PTK
a.        Pertemuan ke 1
1.         Kegiatan awal.
a.    Guru mengabsen.
b.    Guru bersama-sama siswa menyanyikan lagu-lagu yang penuh                          semangat.
c.    Guru menyebutkan indikator pembelajaran.
d.   Pembelajaran diawali dengan tanya jawab mengenai drama.
2.    Kegiatan inti.
a.  Siswa membentuk lingkaran besar.
b. Siswa mengucapkan: A, I, U, E, O, dan EU disertai gerakan yang sudah ditentukan sebagai latihan vokal dan gerak.
c.  Siswa bertutur secara berkesinambungan menyebutkan masing-masing satu buah kata hingga terbentuk menjadi sebuah paragraf, sebagai latihan menyusun naskah.
d.  Guru membagi kelompok yang terdiri dari 8-9 orang dengan tingkat                             kemampuan yang berbeda-beda.
e.    Guru membagi tugas yang berbeda pada setiap kelompok dengan cara                                     setiap kelompok diminta membayangkan beberapa acara TV yang                            paling aktual, kejadian di sekeliling atau acara yang biasa                                                 diselenggarakan di lingkungan tempat tinggal.
f.     Seluruh siswa berdiskusi dengan kelompok masing-masing untuk                                 menyusun dialog/skenario singkat. Setiap siswa harus                                                       menyumbangkan kalimat yang berkesinambungan sesuai dengan tema                         yang telah dipilih.
g.    Siswa berlatih mengucapkan kalimat dialog dengan lafal, volume                                 suara, serta intonasi yang tepat sesuai dengan watak tokoh.
h.    Siswa berlatih mengucapkan kalimat dialog disertai gerak, ekspresi                               serta improvisasi yang tepat.
3.         Kegiatan akhir.
a.    Setiap kelompok tampil memerankan skenario yang telah dibuat.
b.    Guru memberikan penilaian kelompok dan perorangan .
c.    Guru bersama siswa merefleksi pembelajaran.
b.        Pertemuan ke 2
1.         Kegiatan Awal.
a.    Guru mengabsen.
b.     Guru bersama siswa menyanyikan lagu yang bersemangat.
c.    Guru menyebutkan indikator pembelajaran.
2.         Kegiatan Inti.
a.    Siswa dibagi dalam 3 kelompok besar.
b.    Siswa menyanyikan lagu dengan 3 buah kata, yaitu: tudung, kuring,     buleud. Setiap kelompok memegang 1 buah kata. Apabila guru          menunjuk salah satu kelompok, maka kelompok tersebut      menyebutkan kata yang sudah disepakati sebelumnya. Begitu   seterusnya dengan menghindari adanya kesalahan.
c.    Guru memanggil kelompok yang sudah dibentuk sebelumnya untuk     menampilkan drama yang telah dipersiapkan.
d.   Siswa yang lainya duduk bersama kelompoknya masing-masing            sambil memperhatikan dan mengamati pementasan drama yang             sedang ditampilkan  kelompok lain.
e.    Siswa diberi kertas lembar kerja.
3.    Kegiatan Akhir.
a.    Masing-masing kelompok memberikan penilaian penampilan     temannya dengan menggunakan rubrik.
b.    Guru memberikan penilaian kelompok dan perorangan.
c.    Guru bersama siswa merefleksi pembelajaran.
E.     Data Penelitian
Dalam penelitian ini data yang akan digunakan berupa observasi perencanaan dan evaluasi. Observasi perencanaan yang biasa dilakukan di sekolah untuk memfokuskan permasalahan yang akan diteliti. Data perencanaan meliputi: perumusan tujuan, KBM, dan evaluasi pembelajaran. Data evaluasi diambil dari proses pembelajaran dan penampilan kelompok  dalam pementasan drama pada setiap penampilan.
F.      Instrumen
Pada tahap ini instrumen yang akan digunakan berupa lembar observasi kinerja siswa terhadap penampilan kelompok dalam  pementasan sebuah drama singkat.
Pengumpulan dengan menggunakan instrumen lembar kinerja siswa berupa rubrik.
(Tabel: 2) Rubrik  Penilaian  Pementasan  Drama
Aspek
4
3
2
1
Bahasa
a.       Pelafalan
b.      Volume suara
c.       Intonasi
d.      Pemilihan kata tepat

Jika 4 aspek
Muncul

Jika hanya 3
Aspek yang
Muncul

Jika hanya 2 aspek yang
muncul

Jika hanya 1 aspek yang muncul
Isi
a.       Menguasai isi
b.      Pengembangan isi
c.       Mudah di mengerti
d.      Sesuai tema


Jika 4 aspek yang muncul

Jika 3 aspek yang muncul

Jika hanya 2 aspek yang muncul

Jika hanya 1 aspek yang muncul



Teknik/Sikap
a. gerak tepat
b. mimik tepat
c. penyajian lancar
d. kalimat baik dan sopan


Jika 4 aspek yang muncul

Jika 3 aspek yang muncul

Jika 2 aspek yang muncul

Jika hanya 1 aspek yang muncul
J

G.      Indikator Keberhasilan
Sebagai indikator keberhasilan dalam penelitian ini adalah 80% siswa kelas 1X J SMP Negeri 1 Kotabaru mencapai nilai berbicara di atas nilai KKM yaitu 70,00.

H.      Teknik Analisa Data
Teknik analisa data yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah:
a.     Menilai hasil kerja siswa berdasarkan rubrik yang telah ditentukan. Untuk memberikan skor terhadap kerja siswa ditinjau dari 3 aspek, yaitu: aspek bahasa, aspek isi, dan aspek teknik/sikap pada saat pementasan drama. Standar pencapaian nilai maksimal siswa dari keseluruhan indikator adalah 100.
Nilai tersebut diperoleh dari rumus sebagai berikut
                             Skor penilaian siswa
Skor akhir =                                                          × 100
                             Skor maksimal
b.      Tes Lisan
Siswa mengucapkan kalimat dialog dalam drama.














BAB IV
PEMBAHASAN DAN HASIL  PENELITIAN
A.    Siklus Satu
Pada siklus pertama materinya yaitu bermain peran. Kegiatan diawali dengan menyanyikan lagu Sunda “Ayang-Ayang Gung” dilanjutkan dengan lagu Siapa yang Punya dan Cingcangkeling. Lagu Siapa yang Punya dan Cingcangkeling syairnya diubah menggunakan bahasa Sunda  yang isinya untuk menumbuhkan  rasa lebih memiliki bahasa Sunda dan ajakan untuk belajar bahasa Sunda. Kegiatan inti, yaitu siswa diberikan pengalaman langsung bermain peran mulai dari menyusun naskah sampai pementasannya di depan kelas. Setiap siswa dalam kelompok belajarnya harus berbicara dan berperan disertai dengan ekspresi yang sesuai dengan skenario, agar materi lebih mantap maka pembelajaran diulangi pada minggu berikutnya.
Setelah proses pembelajaran dapat dilihat grafik sebagai berikut :
                                    Gambar 2:  Penilaian Bermain Peran
Dengan melihat grafik di atas dapat kita lihat bersama bahwa nilai <50 dan  rentang nilai 50-60, dan keduanya menunjukkan nilai di bawah KKM  di siklus pertama terlihat masih mendominasi, nilai di bawah KKM sebanyak 39 orang (66,67%) dan nilai  di atas KKM hanya 6 orang (13,33%). Kemajuan perolehan nilai pada bermain peran kedua, dapat dilihat pada  rentang nilai 70-80 dan  rentang nilai 90-100 yang menunjukkan nilai di atas KKM mencapai 29 orang (64,44%) dan  perolehan nilai di bawah KKM sebanyak 16 orang (35,56%). Karena pada siklus 1 perolehan nilai belum mencapai indikator keberhasilan maka penelitian akan dilanjutkan pada siklus 2. Agar lebih jelas dapat dilihat perincian perolehan nilai siklus 1 sebagai berikut:
1.      Bermain peran kesatu
-          Perolehan nilai di bawah KKM terdapat pada 2 rentang nilai yaitu di rentang nilai <50 sebanyak 17 orang (37,78%), dan di rentang nilai 50-60 sebanyak 22 orang (48,89%).
-          Perolehan nilai di atas KKM terdapat pada 1 rentang nilai yaitu di rentang 70-80 sebanyak 6 orang (13,33%).
2.      Bermain peran kedua
Pada bermain peran kedua ada peningkatan perolehan nilai dibanding bermain peran kesatu.
-                Perolehan nilai di bawah KKM terdapat pada 2 rentang nilai yaitu di rentang nilai <50 sebanyak 6 orang (13,33%) dan di rentang nilai 50-60 sebanyak 10 orang (22,23%).
-              Perolehan nilai di atas KKM terdapat pada 2 rentang nilai yaitu di rentang nilai 70-80 sebanyak 16 orang (35,57%) dan di rentang nilai 90-100 sebanyak 13 orang (28,90%).
B.     Siklus Dua.
Pada siklus kedua  dengan materi yang lebih sulit yaitu pementasan drama, pembelajaran akan dibagi pada 2 kegiatan,  yang pertama yaitu penyusunan naskah drama. Pada tahap ini terlebih dahulu  guru menjelaskan pengertian dan unsur-unsur pada drama. Kegiatan kedua yaitu pementasan drama. Pada pementasan drama siswa dituntut untuk lebih ekspresif bahkan para siswa sudah menggunakan properti dan kostum sesuai dengan skenario. Untuk lebih mengetahui sejauh mana perubahan yang terjadi pada siswa kelas IX J setelah menggunakan model permainan nyusun kalimah,  mari kita lihat perolehan nilainya:
Gambar 3:  Penilaian Pementasan Drama
Disiklus 2 untuk nilai <50 dan untuk rentang nilai 50-60 yang menunjukkan nilai di bawah KKM pada pementasan drama kesatu jumlahnya masih banyak . Jika dibandingkan dengan pementasan drama kedua  untuk nilai di atas KKM terjadi peningkatan perolehan nilai yang  baik sekali. Berikut akan dijelaskan uraian perolehan nilai pada siklus kedua.
1.       Pementasan drama kesatu.
-          Perolehan nilai di bawah KKM masih terdapat di 2 rentang nilai yaitu pada rentang nilai <50 sebanyak 9 orang (20,93%) dan pada rentang nilai 50-60 sebanyak 9 orang (20,93%).
-          Perolehan nilai di atas KKM terdapat di 2 rentang nilai yaitu pada rentang nilai 70-80 sebanyak 12 orang (27,91%), dan pada rentang nilai 90-100 sebanyak 13 orang (30,23%).
2.       Pementasan drama kedua.
Pada pementasan drama kedua di siklus dua terjadi peningkatan perolehan nilai yang baik sekali. Perolehan nilai di bawah KKM hanya 2 orang (4,76%), selebihnya memperoleh nilai di atas KKM yaitu  pada rentang nilai 70-80 sebanyak 10 orang (23,81%), dan pada rentang nilai 90-100 sebanyak 30 orang (71,43%).
C.    Tes Berbicara.
Tes berbicara merupakan puncak dari keberhasilan penelitian ini. Pada tes berbicara kedua terjadi perubahan perolehan nilai yang signifikan terhadap tes berbicara kesatu. Padahal materi tes berbicara kedua  lebih sulit dari pada tes berbicara kesatu. Tes berbicara kesatu dengan materi hanya berupa ungkapan dialog yang pendek (terlampir), sedangkan tes berbicara kedua materinya lebih sulit yaitu bercerita sebuah pengalaman. Perolehan nilai dapat dilihat pada grafik tes berbicara.
Gambar 4:  Penilaian Tes Berbicara
1.      Tes berbicara kesatu.
Pada tes berbicara kesatu nilai <50 dan rentang nilai 50-60 yang menunjukkan perolehan nilai   di bawah KKM sebanyak 19 orang (45,24%) dan terjadi penurunan drastis untuk nilai di bawah KKM pada tes berbicara kedua menjadi 5 orang (11,90%). Kemudian rentang nilai 70-80 dan rentang nilai 90-100 yang menunjukkan perolehan nilai di atas KKM sebanyak 26 orang (61,90%) naik tajam menjadi 37 orang (88,10%). Berikut adalah penguraiannya:
-          Perolehan nilai di bawah KKM terdapat pada 2 rentang nilai yaitu pada rentang nilai <50 sebanyak 7 orang (15,55%) dan pada rentang nilai  50-60 sebanyak 12 orang (26,66%).
-          Perolehan nilai di atas KKM terdapat pada 2 rentang nilai yaitu pada rentang nilai 70-80 sebanyak 11 orang (24,44%) dan pada rentang 90-100 sebanyak 15 orang (33,34%).

2.      Tes berbicara kedua.
Pada tes berbicara kedua terjadi perubahan yang sangat baik sekali.
-          Perolehan nilai di bawah KKM hanya 5 orang (11,90%).
-          Perolehan nilai di atas KKM terdapat di 2 rentang nilai yaitu pada rentang nilai 70-80 sebanyak 14 orang (33,34%) dan pada rentang 90-100 sebanyak 23 orang (54,76%).
Terjawab sudah bahwa pembelajaran kooperatif dengan menggunakan model permainan nyusun kalimah melalui pementasan drama dapat meningkatkan keterampilan berbicara bahasa Sunda pada siswa kelas IX J SMP Negeri 1 Kotabaru Kabupaten Karawang.







BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

A.    Kesimpulan
Berdasarkan penelitian yang telah dianalisis maka kesimpulan dari penelitian tindakan kelas ini yaitu:
1.      Penggunaan model permainan nyusun kalimah melalui pementasan drama tepat digunakan untuk pembelajaran keterampilan berbicara bahasa Sunda pada siswa kelas 1X J SMP Negeri 1 Kotabaru Kabupaten Karawang.
2.      Dengan penggunaan model permainan nyusun kalimah siswa mengalami sendiri penyusunan skenario bermain peran, skenario drama, dan pementasannya.
3.      Model permainan nyusun kalimah dapat dirasakan keberhasilannya karena dapat meningkatkan keterampilan berbicara dengan perincian sebagai berikut:
-       Siklus 1 perolehan nilai di atas KKM mencapai 57,78%.
-       Siklus 2 perolehan nilai di atas KKM mencapai 88,10%.
B.     Saran
Saran yang bisa diberikan agar penggunaan model permainan nyusun kalimah dapat diterapkan pada pembelajaran berbicara umumnya dan pada drama khususnya maka dapat diambil langkah-langkah sebagai berikut:
1.      Menumbuhkan rasa senang terhadap pembelajaran, misalnya dengan bernyanyi terlebih dahulu dengan lagu yang penuh semangat dan isinya berupa ajakan untuk belajar.
2.      Untuk keberhasilan pembelajaran maka harus dilaksanakan secara berkelompok.
3.      Agar lebih mudah menguasai isi materi, maka skenario disusun oleh kelompok masing-.masing dan semua anggota harus mendapat peran.
4.      Agar siswa memiliki keberanian untuk berbicara serta mengembangkan bakat-bakat yang terpendam  maka seluruh kelompok harus dipentaskan.
5.      Berikan penghargaan pada setiap pementasan.

2 komentar:

  1. hatur nuhun buu,,,bermanfaat PTK nya

    BalasHapus
  2. Kataji Pisan ku ieu PTK ti ibu. Nuhun........

    BalasHapus